
photo: Kapolres Gayo Lues.
Zoom news Gayo Lues – Di tengah kepungan lumpur, bebatuan, dan tanah longsor yang masih basah, tampak sosok berseragam cokelat duduk bersandar di atas gundukan tanah. Sepasang sepatu bootnya dilumuri lumpur, wajahnya lelah namun sorot matanya penuh kepedulian. Ia adalah Kapolres Gayo Lues, yang memilih berada paling dekat dengan lokasi bencana, merasakan langsung getirnya penderitaan masyarakat pascabanjir dan longsor.
Bencana yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Gayo Lues tidak hanya menghancurkan rumah dan akses jalan, tetapi juga memporak-porandakan ketenangan hidup warga. Di tengah suasana duka dan kekhawatiran itu, kehadiran Kapolres Gayo Lues di lokasi menjadi penanda bahwa negara tidak tinggal diam.
Kapolres tidak sekadar datang untuk meninjau. Ia turun langsung ke titik-titik terparah, menyusuri medan berat yang berbahaya, memastikan proses evakuasi berjalan, distribusi bantuan sampai, dan keselamatan warga menjadi prioritas utama. Duduknya beliau di atas longsoran tanah bukan sekadar istirahat sejenak, namun sebuah simbol keteguhan dan empati—bahwa ia memilih tetap dekat dengan rakyatnya, di tempat yang paling sulit sekalipun.
“Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak hanya butuh bantuan logistik, tetapi juga kehadiran dan ketenangan,” ungkap salah satu warga yang menyaksikan langsung kehadiran Kapolres di lokasi bencana.
Di bawah komando Kapolres Gayo Lues, jajaran Polres terus bekerja tanpa mengenal waktu. Bersama TNI, BPBD, relawan, dan masyarakat, aparat bahu-membahu membersihkan material longsor, membuka akses terputus, serta membantu warga yang terdampak agar bisa kembali bangkit.
Foto yang terekam di lokasi bencana itu seakan berbicara tanpa kata. Ia menggambarkan pengabdian seorang pemimpin yang memilih turun ke tanah, menyatu dengan lumpur dan kesedihan rakyatnya. Dalam keheningan pascabencana, kehadiran Kapolres Gayo Lues menjadi sumber kekuatan bahwa harapan masih ada, dan pemulihan akan terus diperjuangkan.
Banjir dan longsor mungkin telah merenggut banyak hal, tetapi kepedulian, kebersamaan, dan rasa kemanusiaan yang ditunjukkan di lapangan menjadi fondasi kuat untuk membangun kembali kehidupan di Gayo Lues.(Amin lingga).
















