
sumber photo: dokumen pribadi tgk edem.
Zoom news Gayo Lues — Di balik hijaunya perbukitan yang membentang, tersimpan sebuah berkah yang dahulu mungkin tak banyak disadari. Pohon tusam atau pinus, yang tumbuh tegak dan sederhana, kini menjelma menjadi penopang harapan bagi banyak keluarga di Kabupaten Gayo Lues. Dari tetesan kecil getahnya, lahir aliran rezeki yang perlahan namun pasti menguatkan perekonomian masyarakat, bahkan gaungnya telah dikenal hingga ke luar negeri.
Namun, kisah tusam bukan sekadar cerita tentang hasil dan keuntungan. Ia adalah kisah tentang kesabaran, ketekunan, dan pengorbanan yang tak banyak diketahui orang. Jauh sebelum getahnya bernilai ekonomi seperti hari ini, ada tangan-tangan tulus yang menjaga keberadaannya dengan penuh tanggung jawab.
Sekitar tahun 1950 atau 1960-an, ketika kesadaran akan pentingnya hutan belum seperti sekarang, seorang sosok sederhana dari Terangun, Kampung Soyo, bernama Yusup bin Dikum di mana Dikum bin jonga yg meninggal di tembak Belanda di tetumpun kampung Soyo saudaranya obol pang lima perang di tangkap Belanda di buang ke daerah jawa, telah lebih dulu memahami arti menjaga alam. Di masa itu, beliau dikenal dengan julukan “Upes uyem atau upes api ”—sebuah gelar yang mencerminkan perannya dalam melindungi hutan dari ancaman kebakaran dan kerusakan.
Dengan segala keterbatasan, almarhum Yusup menjaga pohon-pohon tusam agar tetap hidup, tumbuh, dan lestari. Bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi masa depan yang mungkin tak sempat ia nikmati. Hari ini, sosok itu telah tiada. Sekitar empat tahun lalu, beliau berpulang ke rahmatullah di usia yang diperkirakan mencapai 130 tahun. Namun, jejak pengabdiannya tetap hidup di setiap batang tusam yang berdiri kokoh.
Semasa hidupnya, almarhum tak pernah berharap balasan. Ia hanya menitipkan pesan sederhana namun penuh makna kepada anak sulungnya, Tgk Adam, S.Pd.I: jika suatu hari tusam ini memberi manfaat ekonomi, maka rawatlah, jagalah, dan jangan lupa bersyukur kepada Allah SWT.

Kini, pesan itu terasa semakin relevan. Di tengah meningkatnya nilai ekonomi dari pohon pinus, ancaman terhadap kelestariannya juga semakin nyata—penebangan liar dan pembakaran hutan menjadi bayang-bayang yang mengintai.
Tusam telah membuktikan dirinya bukan sekadar pohon biasa. Ia adalah sumber kehidupan, simbol keberkahan, dan warisan yang dititipkan oleh generasi terdahulu. Maka sudah sepatutnya, masyarakat bersama-sama menjaga dan merawatnya dengan sepenuh hati.
Karena sejatinya, dari tetesan kecil yang dahulu mungkin dianggap sepele, kini telah tumbuh harapan besar bagi Gayo Lues. Dan di balik itu semua, ada doa-doa sunyi dari seorang penjaga hutan yang tulus—yang tak meminta dikenang, namun jasanya tak akan pernah hilang.(Amin lingga/ tgk edem)
















