Zoom news Gayo Lues – Kamis, 12 Februari 2026, suasana khidmat menyelimuti Pendopo Wakil Bupati Gayo Lues yang terletak di Pepantaran, Desa Porang Ayu. Dalam balutan adat dan tradisi Peusejuk, doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap, seakan menyatu bersama sejuknya angin perbukitan Negeri Seribu Bukit.
Acara tersebut bukan sekadar seremoni adat. Ia menjadi ruang pertemuan hati—antara pemimpin dan rakyat, antara harapan dan pengabdian. Di tengah lantunan doa dan kebersamaan yang hangat, Wakil Bupati Gayo Lues menyampaikan pesan yang menyentuh nurani.
Beliau menegaskan bahwa pepantaran atau pendopo itu sejatinya bukanlah sekadar rumah jabatan, melainkan rumah bersama. Tempat bernaung, tempat berdiskusi, dan tempat merancang langkah demi kemajuan daerah.
Dengan nada penuh ketulusan, beliau mengakui bahwa bangunan itu masih jauh dari kata sempurna. Dindingnya mungkin belum sepenuhnya kokoh, atapnya belum sepenuhnya layak, dan beberapa sudutnya masih menunggu perbaikan. Namun di balik semua keterbatasan itu, tersimpan pilihan besar yang lahir dari hati yang berpihak.
Alih-alih mengutamakan kenyamanan pribadi, beliau memilih menahan diri. Ia tak ingin sepeser pun anggaran daerah dialihkan untuk memperindah rumah jabatan, sementara di luar sana masih ada masyarakat yang membutuhkan perhatian; masih ada jalan yang perlu diperbaiki, bantuan yang perlu disalurkan, dan harapan yang perlu dijaga. Baginya, rasa nyaman seorang pemimpin tak boleh melampaui kebutuhan rakyatnya.
Keputusan itu bukan sekadar soal teknis anggaran, melainkan cerminan empati. Ia memilih jalan kebersamaan—renovasi dilakukan dengan semangat gotong royong. Karena dari gotong royong lahir rasa memiliki, dan dari rasa memiliki tumbuh kepedulian yang tulus.
“Siapa saja boleh singgah ke sini. Jika ada saudara kita dari jauh yang karena suatu hal tidak sempat pulang ke kampung halaman, maka di sinilah tempatnya untuk menginap,” ujarnya lirih di sela doa bersama.
Ungkapan itu sederhana, namun sarat makna. Pendopo tersebut diposisikan bukan sebagai simbol kekuasaan, melainkan simbol keterbukaan. Bukan sebagai tempat yang berjarak, melainkan ruang yang merangkul.
Pendopo Wakil Bupati kini berdiri bukan sekadar sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai lambang komitmen—bahwa membangun daerah bisa dimulai dari kesederhanaan, dari empati, dan dari pilihan untuk selalu mendahulukan rakyat.(Amin lingga).
















