Zoom news Gayo Lues — Pasca musibah banjir dan longsor yang melanda wilayah Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, duka masih menyelimuti warga Desa Pepelah. Rumah-rumah rusak, harta benda hanyut, dan kehidupan yang semula berjalan tenang kini berubah menjadi penuh keterbatasan dan ketidakpastian.
Di tengah kondisi tersebut, Plt Pengulu Desa Pepelah, Riki Sahriandi, menyuarakan harapan sekaligus kebutuhan mendesak masyarakatnya. Dengan nada penuh keprihatinan, ia menyampaikan bahwa saat ini warga sangat membutuhkan peralatan rumah tangga, penerangan, tenda, serta perlengkapan dapur untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
“Kami sedang mempersiapkan pembangunan Huntara (Hunian Sementara) bagi warga terdampak. Namun sebelum itu, masyarakat kami benar-benar membutuhkan perlengkapan dasar untuk bertahan hidup,” ujar Riki.
Malam hari di Desa Pepelah masih diselimuti gelap. Banyak warga tidur dalam keterbatasan, tanpa penerangan yang memadai, beralaskan apa adanya, dan memasak dengan peralatan seadanya. Kondisi ini semakin berat bagi anak-anak, para lansia, dan kaum ibu yang harus tetap bertahan demi keluarga mereka.
Plt Pengulu Desa Pepelah juga menyampaikan harapan besar kepada pemerintah pusat dan pemerintah provinsi agar dapat memberikan perhatian dan uluran tangan secepatnya. Menurutnya, bantuan yang tepat dan cepat bukan hanya soal logistik, tetapi juga tentang menguatkan kembali harapan dan semangat hidup masyarakat yang kini tengah diuji.
“Warga kami tidak meminta berlebihan. Kami hanya ingin mereka bisa hidup dengan layak sambil menunggu hunian sementara dibangun,” tambahnya.
Di balik reruntuhan dan lumpur yang tersisa, masyarakat Desa Pepelah masih menggenggam harapan. Harapan akan kepedulian, solidaritas, dan kehadiran negara di saat mereka paling membutuhkan. Luka akibat bencana mungkin belum sembuh, namun dengan uluran tangan semua pihak, cahaya harapan diyakini akan kembali menerangi Desa Pepelah.(Amin lingga).
















