Zoom news Gayo Lues,— Di sebuah rumah sederhana berdinding papan tua, tersimpan kisah haru tentang kepedulian dan kemanusiaan. Pascabencana banjir dan longsor yang melanda Kecamatan Pining, Camat Pining turun langsung menyerahkan bantuan kepada warga yang paling membutuhkan, salah satunya seorang lansia yang hidup dalam keterbatasan.
Foto ini merekam momen penuh makna: Camat Pining dengan penuh kehati-hatian menyerahkan bantuan kebutuhan pokok ke tangan sang nenek yang terduduk lemah di depan rumahnya. Dengan rambut memutih dan tubuh renta, ia menerima bantuan itu dengan genggaman kecil yang gemetar—sebuah potret nyata betapa musibah semakin berat dirasakan oleh mereka yang paling rentan.
Di sisi lain, aparat TNI dari Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP) 855/Raksaka Dharma turut mendampingi. Kehadiran mereka menjadi simbol kebersamaan dan sinergi di tengah penderitaan masyarakat. Negara hadir bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui langkah kaki yang menembus medan sulit dan jalur terjal.
Perjalanan penyaluran bantuan tersebut bukan perkara mudah. Camat Pining bersama rombongan Yon TP 855 DR harus berjalan kaki berjam-jam menyusuri medan rusak akibat banjir dan longsor. Perjalanan panjang itu berlangsung hingga menjelang malam hari, memaksa rombongan beristirahat sejenak di Kampung Pepelah sebelum

melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
Barulah pada hari berikutnya, dengan semangat yang tak surut, rombongan tiba di Desa Pintu Rime. Bantuan yang dibawa tidak diangkut dengan kendaraan, melainkan dipikul dan dijinjing secara bergantian oleh para personel Yon TP 855 DR demi memastikan logistik sampai ke tangan warga yang membutuhkan.
Bantuan yang diserahkan mungkin tidak mampu mengganti seluruh kehilangan akibat bencana. Namun bagi warga penerima, khususnya para lansia, kehadiran dan kepedulian tersebut adalah harapan—bahwa mereka tidak sendirian menghadapi cobaan hidup ini.
Camat Pining menegaskan bahwa langkah kecil ini adalah bentuk tanggung jawab moral pemerintah. Mendekat kepada rakyat, menyaksikan langsung penderitaan mereka, dan memastikan bantuan benar-benar sampai tanpa terkecuali.
Musibah memang telah merenggut banyak hal: harta benda, rasa aman, dan kenyamanan hidup. Namun di balik itu semua, tumbuh cahaya empati dan kepedulian.
Foto ini menjadi saksi bahwa di tengah duka, masih ada langkah yang rela letih, tangan yang terus terulur, dan harapan yang tetap dijaga untuk bangkit bersama.

(Amin lingga).
















