Sumber photo: Rickyei

Zoom news Gayo Lues — Di saat sebagian besar warga masih terbaring lelah akibat bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Gayo Lues, sosok Wakil Bupati H. Maliki justru terus melangkah tanpa henti. Setiap hari, sejak musibah itu terjadi, beliau hadir di tengah-tengah masyarakat, menyusuri jalan licin, terjal, dan berlumpur demi memastikan rakyatnya tidak merasa sendirian menghadapi cobaan berat ini.
Tak terhitung berapa kali kaki beliau menginjak tanah basah, menembus hujan, dan melewati akses sulit menuju lokasi bencana. Jalanan berlumpur, medan berbahaya, bahkan risiko longsor susulan tak menjadi alasan untuk berhenti. Seolah tak mengenal kata lelah, Wakil Bupati Gayo Lues itu terus bergerak—mengunjungi pengungsi, mendengarkan keluhan warga, menyerahkan bantuan, serta memberi penguatan moril bagi mereka yang kehilangan rumah, harta, bahkan harapan.
Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam di hati masyarakat. Banyak warga mengaku terharu, bahkan meneteskan air mata melihat pemimpin daerahnya turun langsung tanpa jarak, tanpa protokoler berlebihan, dan tanpa pamrih. Bagi mereka, kehadiran H. Maliki bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai saudara, sebagai orang tua, dan sebagai tempat bersandar di saat duka melanda.
“Beliau datang hampir setiap hari. Tidak mengenal hujan atau lumpur. Kami merasa benar-benar diperhatikan,” ungkap seorang warga korban banjir dengan suara bergetar.
Langkah demi langkah yang ditempuh Wakil Bupati Gayo Lues adalah bukti nyata bahwa kepemimpinan sejati lahir dari empati dan ketulusan. Ketika jalanan licin dan terjal menjadi saksi, dan lumpur menjadi teman setia, beliau tetap berdiri bersama rakyat—menguatkan yang lemah dan menghidupkan kembali harapan yang nyaris padam.
Di tengah duka bencana alam yang menyisakan luka mendalam, kehadiran Wakil Bupati H. Maliki menjadi cahaya kecil namun bermakna besar. Sebuah teladan bahwa pemimpin bukan hanya hadir saat seremonial, tetapi justru paling dibutuhkan ketika rakyat berada di titik terendah kehidupannya.(Amin lingga).
















